Tuesday, January 31, 2017

RV dream life


sejak ketemu malimish, saya dan deni memang selalu kepikiran sama hidup nomaden. walau sekarang belom kejadian juga.. idealnya saya dan deni kerja freelance, saya mungkin jadi graphic designer, deni jadi kuli tulis, dan kita bisa kerja sambil keliling dunia pake RV atau caravan.

entah sejak ngontrak apalagi, saya dan deni kok malahan makin males untuk menata atau menginvestasi di rumah kami, (misalnya bikin dapur, bikin awning, renov kamar) yang sebenernya kita ga pake. belajar dari mama saya, punya rumah itu usia renovasinya ga ada abisnya, dan model atau style itu cepet banget gantinya, yah macam di pinterest sekarang bunga bunga besok udah monokrom. kalau pun itu investasi, kami liatnya hanya dalam bentuk tanah aja, buat nanti banget pas aki ninik.

beberapa waktu lalu di facebook sempet beredar artikel soal kini orang udah ga mempertahankan yang sifatnya investasi materi, kayak mobil atau rumah, karena itu akan membuat kita ga bebas bergerak. yah tinggal kita aja, mau terima kalau sampe nenek kakek, kita bakalan bayar sewa. artikel itu bilang sekarang kalau mau punya rumah mewah di pinggir gunung, atau rumah pantai dengan kolam renang infinity pool, kita tinggal sewa di airbnb. mau pergi kemana saja dengan mobil, kita bisa pakai uber, atau aplikasi lain. tanpa perlu bayar cicilan dan pajak, dam maintanencenya. (yah ini saya ngomong dari sisi pasangan yang sama sekali ga ada bantuan "ringan" dari orang tua ya, kalau sudah dimodalkan apapun bentuknya beda ceritanya)

eniwei.. beberapa minggu yang lalu saya ketemu knorpp and south, mereka luar biasa banget sih, dengan 9 anak, mereka memutuskan untuk 2 tahun keliling amerika dalam RV. memang bukan hidup nomaden semacam malimish, tapi masih do-able untuk dilakukan setahun dua tahun dengan keluarga. saya pun langsung whatsapp deni. "gw mau den, atleast sekali dalam seumur hidup gw kita jalan dengan caravan." deni jawab "yuklah masukin bucket list." :)

entah kali kami baru bakal kejadian ketika sali nanti sudah kuliah (di oxford.. azeek) baru saya dan deni beli RV kecil buat keliling berdua.. untuk sekarang mari kita ngintip dan ngayal bersama dengan liat RV nya knorpp and south..



picture taken from tiny house town from this lovely mountain modern life
(also droll worthy RV)

Wednesday, January 25, 2017

gong xi lil chun li

cuma posting cepat soal tadi pagi.. hari ini salimun ada perayaan chinese new year, briefnya cuman pake baju merah... ibu cuman iseng bikin rambut sali ala chun li.



sali ceritanya lagi vlogging, pake hp ibu yang mati total.. katanya ibu ga boleh posting di instagram, jadi ibu posting di blog aja buat kenang-kenangan. sampe di pagar sekolah hp-nya dibalikin. bakalan kangen nganterin sali jalan kaki lewatin jalan jalan tadi pagi..

Tuesday, January 17, 2017

mencoba mengurangi kopi instan..


kurang dari sebulan yang lalu, mantan teman kantor saya, mas ipoet, telah pergi meninggalkan kita. masih muda, kira kira hanya 2 atau 3 tahun dia atas saya, anaknya 2 orang masih kecil. saya kaget banget, dia itu anak band yang straight edge yang di tangannya selalu bawa itungan buat dzikir. orangnya cuek, suka asal, tapi taat, yang pasti dia baek banget, dan ga cenderung ga enakan. masalahnya ternyata ginjalnya sudah ga berfungsi, jadi harus cuci darah. mengingat dia ga peminum buat anak gaul, saya juga heran kenapa bisa. ternyata dia suka minum minuman kemasan, soft drink, teh manis botolan, dan kopi instant. saya jadi inget saya dan dia suka ngeledekin temen kantor lain yang peminum kopi beneran, bukan kopi bencong kayak kami. "kopi tuh mesti manis, pake susu, kalo bisa pake es, ya ga yan.." trus dia ngajakin toss.

terus terang saya langsung mikir banyak. saya dan deni sangat tukang jajan, apalagi deni. ga suka bawa bekel minum, kerjanya beli minuman kemasan di jalan. di kantor saya pasti stok kopi instan, bahkan teman saya semua juga pada tau, kalo minta kopi instan ke meja yana. sebulan pasti saya beli stok kopi instan buat di rumah dan di kantor tiap belanja bulanan. pagi sebelum jalan saya ngopi, sampe kantor, jam 10 saya ngopi lagi, lalu satu cangkir lagi ketika jam 3. setelah mas ipoet saya mikir, kasian juga ya ginjal saya. saya juga bukan peminum, atau perokok. tapi masalah saya selalu kurang minum.

makanya saya berniat mengurangi kopi instan, dan minuman kemasan. saya bukan peminum kopi tubruk makanya bagi saya minum kopi ada ampasnya itu ganggu banget. temen sebelah saya itu penggemar kopi akut, kalo ke kantor bawaan alat alat dan jenis kopinya satu container sendiri. dari alat yang sederhana sampe yang pake torch segala. yang paling simpel memisahkan ampas dan rasanya lumayan maximal adalah french press.

akhirnya mulailah niatan untuk minum kopi beneran. sebenernya minum kopi gini sih tetep mesti diimbangin banyak minum air putih. tapi kadar gula dan krim atau susunya bisa kita takar sendiri, dan kalau kopinya udah enak (saya pake yang paling mudah dibeli aja kok.. excelso yang dimana-mana ada) ga perlu gula dan krim yang terlalu banyak juga udah nendang.

saya beli french press kecil yang buat satu cangkir buat di kantor, dan satu french press besaran buat ngopi berdua deni di rumah. dengan modal liat youtube saya udah gapai lo bikin kopi yang enak. malah kata deni saya udah bisa bikin house blend yang ga kalah sama tuku.. azek..

gak kok, ga buat gaya gayaan gak minum kopi instan lagi, buat biar bisa kontrol kadar gula, dan pengawet aja. :)

pic taken from pinterest

Friday, January 13, 2017

stick it to the man


"Ini adalah film yang mempromosikan anarkisme dengan baik. Seneng ketika denger istri gue juga suka film ini. Meski tidak plek ketiplek bisa menerapkan ide "anarchist-parenting" kayak film ini, tapi cukup senang ketika gue dan partner hidup gue sering kali sepemikiran."

itu postingan deni di Path soal film Captain Fantastic yang kami tonton secara terpisah. iyah saya rasa film ini mind blowing sampai setelah menonton film ini saya jadi too excited untuk ngobrol soal apa yang esensial dalam keluarga kita dan soal mendidik anak sama deni. sama dengan deni, saya sungguh tertarik betapa komunikasi begitu 'frank' antara orang tua dengan anaknya, tanpa perlu menganggap bahwa mereka anak kecil, secara logika aja, secara knowledge aja. dan esensi yang perlu dan tidak perlu yang mereka contohkan sungguh membuat saya dan deni yakin bahwa jalan yang kami jalani selama ini ga ngaco, ada yang kayak gini.

dan semua material things yang sedang kami kejar hanya untuk social approvement menjadi sangat tidak penting. jangan salah, kami masih mau banyak hal, tapi kami tidak mau itu menjadi dasar dari apa yang kita kerjakan dalam keluarga ini. tentu saja kami tak mau itu jadi time consuming dan money consuming, kami akan punya ketika kami layak punya. ketika belum, kami tidak kecewa.

i did choose the right partner in life, the right man.. :)

...

Rellian: “If you assume that there is no hope, then you guarantee that there will be no hope. If you assume that there is an instinct for freedom, that there are opportunities to change things, then there is a possibility that you can contribute to making a better world.”
Ben: Noam Chomsky.

Thursday, January 12, 2017

anak ibu mau masuk SD


alhamdulillah sali udah diterima di SD.. biar juga mulainya baru juni, apa juli ya? (orang tua macam apa kamu yana), eniwei, menurut saya.. ini periode penting buat sali yang bikin ibu pingin nulis lagi.
setelah beberapa lama vacum, karena entahlah lagi periode ga pingin ditulis, cuman dikerjain aja.

dari terakhir nulis, udah banyak yang berubah. sali lagi rajin les nari hip hop, itu dunianya sekarang. dan buat saya dan deni aktivitas baru sali ini cukup makan waktu kami. jadi kami juga jarang jalan jalan.

ceritanya saya mau cerita soal memilih sekolah buat sali. sebenernya saya dan deni emang udah suka sama sekolah yang kami incer ini dari jaman sali masih kecil. gedungnya kami lewati tiap hari kalau jemput sali dari mama, pulang ke limo. pada akhirnya kami berjodoh dengan daycare sali yang letaknya ga jauh dari sekolah inceran itu. lalu karena merasa aktivitas limo terlalu berat buat kami bertiga jalani, kami pun memutuskan mengontrak dekat daycare sali. tentu saja otomatis sekolah inceran kami ini jadi prioritas utama ketika mendaftarkan sali.

apa sih nama sekolahnya? sekolah gemala ananda. beberapa teman saya sudah memasukkan anaknya disini, pertama dengar sih dari puan, lalu sahabat saya amanda pun masukin anaknya di sini. begitu juga dengan 2 teman saya lainnya. jadi ketika ada undangan open house, saya langsung dikabari sama beberapa teman saya. jadi lah saya dan deni ikut dalam open house sekolah gemala ananda. sali pun ikut, dia masuk di dalam kelas, terpisah dari kami.

saya dan deni biar juga terlihat ga jelas, sebenernya punya visi yang jelas buat apa yang kita mau buat sali nanti, ini yang kita berdua pegang teguh di hubungan kita sebagai orang tua, kasarnya, ga peduli kita ga keliatan sukses sama orang lain, yang penting saya dan deni harus sukses sebagai orang tua. yaitu dengan berhasil membuat sali berkepribadian, punya kepercayaan, punya buah pikir, dan tidak cuma patuh pada otoritas, apapun itu.

ketika saya dan deni datang ke open house, kami disambut oleh kepala sekolah yang "agak beda" bentukannya, perempuan, blak-blakan, berambut pendek, dan berbusana casual, nama ibu jasmin. pertama bu jasmin memutar presentasinya kami langsung jatuh cinta.. dia memutar video klip pink floyd another brick in the wall. setelah itu semua presentasi dia soal sekolah makin membuat kami wannabe banget sama sekolah ini. semua yang kami inginkan buat sali terdeskripsi dengan jelas oleh bu jasmin. walau dengan tegas dia menyatakan sekolah ini bukan sekolah nitipin anak, yang punya tanggung jawab pertama buat ngajarin tetap orang tua, sekolah hanya membantu. kita jalan sama-sama.

setelah open house kami mendaftar via online, lalu menunggu dipanggil untuk trial sali, dan interview orang tua. trial sali berjalan lancar, tapi kami tidak juga dapat panggilan interview orang tua. padahal beberapa teman sudah mengabari kalau beberapa anak suadh diterima. yah udah saya pikir mungkin sekolah masih sibuk dengan aktifitas lain yang sedang jalan waktu itu, yaitu terima rapor.

akhir desember akhirnya kami dapat panggilan interview, waktu itu dijadwalkan tanggal 29, sudah hampir libur. saya dan deni ijin masuk siang, karena inteviewnya jam 9. deg-degan sih, tapi begitu ketemu dengan ibu ninong, dan ngobrol soal orientasi sali, kami pun jadi santai. entah kami berdua juga mungkin sudah tahu persis apa yang kami berdua mau dengan sali, kami pun jadi lancar, saking lancarnya saya rasa kami terlalu terus terang. hihihi.. deni juga yang biasanya suka belibet, karena dia tau sali gimana, dan yang mau akan sali gimana, sama sekali ga mundur, maju terus hajar bleh..

dari orientasi sali, ibu ninong tahu bahwa formulir kami jujur soal kepribadian, interest dan non interestnya. dan kami ga nyangka, apa yang kita mau soal sali ternyata sudah mulai berbuah, kami ingin dia punya buah pikir, ternyata hasil orientasi dia punya logika yang di atas umurnya.

saya pun sempat menyatakan penting bagi kami dia masuk ke lingkungan yang homogen. dia harus terbiasa dengan sesuatu yang berbeda dengan dia, ga ada yang selalu benar, dan selalu salah. beda itu gapapa, bahkan kalau dia berbeda keyakinan dengan ibu dan abahnya, dia ga durhaka. kami mau dia punya faith, bukan hanya taat. jadi ketika dia ada lingkungan nyata nanti dia ga gagap perbedaan, dan punya empati lebih buat yang berbeda dengan dia.

mengejutkannya setelah saya dan deni ngomong sejujur-jujurnya dan ampir atheis itu, kami langsung dapat kabar besoknya, yaitu tanggal 30, kalau sali diterima. sungguh saya bahagia sekali, i have a lot of faith and a lot of hope buat sekolah ini. semoga segala kerjasama kami mendidik sali berbuah manis...