Tuesday, November 21, 2017

#hastag

just finished Ingrid goes to the west, a satire comedy about social media. the length of people just to be excepted on a (digital) society. even though those we're never been a reality for their live. just exactly how real do we post about our self in social media? although we tried to say we have nothing to hide, there is a little lie in (if not every) most post, because we wanted to tell a story. we want the story to be sold.

i don't think any social media star has a slightest touch of reality, and they do think what they were so right about everything, just because people give them double tap. they actually thinks that the double tap was a sign of friendship.

people try so hard to be excepted, even bought the things that are so important to the community, just to have a slight similarity, or inviting a comment. in the other hand, if the topic don't have much respond, they would stop. and will continue to post only the ones that would have much respond. i think we've been guilty to these kinda crimes in a small scale... and decided to stop when it became unreal. but people like ingrid do take the extra effort to make it, and i hope you are not one of those.

it's actually sad, when one social media influencer is clinging to another social media influencer to expect that they are real friends. to think that the other person actually care about him/her. i wish sali never have to hold on to these kinda friendship, and value real friends in real life. who actually knows about you. who actually connect.



pictures are taken from this great article about the movie

Monday, November 13, 2017

festival dongeng mampir ke Gemala Ananda


kalo tanpa facebook sekolah sali yang cukup aktif, saya ga bakalan engeh sama aktifivitas sali di sekolah. kayak yang kemaren terjadi festival dongeng mampir ke sekolah sali, beberapa pedongeng dari luar negri singgah bercerita sama anak-anak. ada Seung Ah Kim, pendongeng dari Korea, ada Kieran Syah, pendongeng dari Singapura, dan ada Uncle Fat, pendongeng dari Taiwan.

kalo versi sali... "ibu tadi ada orang-orang dari luar negri cerita sama kita." selentingan begitu saya ga engeh, apa maksud orang-orang dari luar negri itu. makanya pas ngintip ke facebook sekolahan, baru deh ngerti. untungnya video pendongengnya cukup lengkap. bahagia deh, biar juga di kantor kita tetep bisa tau dan ikut merasakan senengnya anak anak belajar dan berteman.

bahkan waktu peringatan hari sumpah pemuda, guru guru memainkan drama sumpah pemuda, dan kita bisa nonton live streamingnya live di facebook. jadi ibu dan ayah di rumah atau di kantor bisa nonton juga, dan sampai rumah kita bisa bahas apa yang sudah dia pelajari.

untuk cerita lengkapnya bisa diintip lo di fb sekolah sali ini.

Sunday, November 12, 2017

...

kayaknya pingin beralih meng'index' perjalanan sali dancing di sini aja. mungkin entah saya yang lebay ngomongin soal sali dancing di sosmed, kok lama lama kayak ngundang komen ga enak. kali iya saya juga mesti koreksi diri, emang ga semua paham soal anak seusia sali yang udah punya komitmen ke dancing (atau apapun).

komen bisa dari orang yang ga deket sama saya sampe yang paling deket. sampe saya speechless, mau respon apa. okelah kalo disebut sekali mungkin bercanda, tapi kalo sampe dua kali, saya kan jadi mikir, apa iya emang udah unek-unek dia selama ini, jadi dia juga udah mikirin gimana cara keluarnya. sekali pertama respon saya kayaknya ga cukup puas dia, sampe lupa, lalu jadi komen kedua kalinya. saya juga ga kepengen ngerusak hubungan karena kita deket banget. dan cuman gara-gara beda interest terhadap anak, kita jadi saling judgemental.

seperti yang saya udah pernah tulis soal sali di ig, saya ga bisa kasih standart "baru anak-anak" ke sali. sali emang kalo mau, dia komit. mau soal nari, atau puasa misalnya. mana saya nyangka tubuh sekecil dia, dan belum masuk SD, sudah berani untuk audisi nari, tampil setelah 24 penari lainnya. atau dia bisa puasa fullday 14 hari, demi dapet spinner aja. saya dan deni emang ga bisa underestimate sali. kita ga bisa lah memandang rata kemampuan semua anak berdasarkan usia.

sebenernya saya dan deni sudah berkali-kali meragukan apakah sali bisa di Lil G.O, dan sudah beberapa kali bertanya ke temen-temen ibu-ibu dancer lain, bahkan guru dan yang punya sekolah narinya. apakah sali bisa? dan kalau sali ternyata belum mampu gapapa, kita mundur. karena sali paling kecil di timmya, dan mindset belajarnya belum seperti kakak-kakaknya. tapi semua meyakinkan supaya sali tetep stay di Lil G.O, karena mereka yakin kalau sali mampu. sepertinya kalo saya dan deni mundur, kami yang ga adil buat dia. kami yang ga kasih ruang buat dia tumbuh.

soal waktu latihan yang banyak bertanya di waktu hari sekolah, yah memang sali itu dari dulu bukan tipe yang tidur cepat, selesai latihan saja sali masih bisa loncat loncatan, sampe kalo keluar kelas, ibu-ibu lil g.o lain suka tanya, "belom puas ya sali, nanti di rumah latihan lagi baru bobok ya.." cuman ibu-ibu lain yang ngerti kalo sali batrenya energizer. tapi pastinya diimbangin dengan tidur siang. kalo ada jadwal latihan sore, sudah pasti saya pesen sama mama untuk sali tidur pulang sekolah. sali biasanya patuh, karena sudah tahu kalo dia tidak tidur siang konsekuensinya dia ngantuk dan ga konsen kalo latihan.

soal sali kok bisa tau dancer yang hitz. yah emang naif sih kalo mikir sali nyari sendiri di youtube. kalo anak punya interest kita jadi orang tua juga 'wajib' dukung dia buat kasih tau dancer yang bagus kayak apa. nanti dia sendiri kok yang milih yang dia suka yang mana. yang gaya apa yang paling dia minat. sama aja kalo misalnya anaknya suka nulis, kita juga mesti pancing dia supaya tau penulis yang bagus tuh siapa, tulisan yang bagus tuh kayak apa. kita yang dukung fasilitas supaya dia tetep interest. sama aja kaya kalo anak kita suka frozen, atau star wars misalanya.. mana anaknya tau atau mendalami karakternya itu siapa, kalo bukan ibunya yang kasih tau. sama aja, cuman kalo sali beda idola. bukan chewbacca atau princess mononoke.

jadi orang tua dari yang anaknya udah punya komitmen dari kecil itu selalu proses belajar terus buat saya dan deni. ga bisa anaknya tiba-tiba jadi. kemarin dia mogok tampil setelah persiapan latihan intesif 2 kali seminggu selam 4 minggu. paginya latihan lancar, waktu blocking di tempat pun lancar. satu menit sebelum tampil dia nangis. waktu tau kalo sali ga tampil, repsonnya temen temen saya banyakan yang bilang, 'gapapa lah, masih anak kecil." "kalo anak gue mah digituin bodo amat, ga mau yah ga mau." bukannya mau ngegampangin sih, kalo gini, saya ga belajar, berusaha ngertiin sali apa masalahnya. karena tiap sali tampil ga pernah punya masalah, berarti selama ini saya dan semua ngegampangin kalo dia selalu siap tampil. kalo mau jujur, sebenernya sali udah kasih saya hint-hint kalo dia ga siap, dan walau saya udah kasih pep talk dikit, ternyata masih kurang buat performance sebesar kemarin. dan sali keburu main terus seharian jadi mentalnya 'ga siap'nya sebenernya dia alihin ke having fun. kalo gini saya dan coachnya harus belajar mental prepnya sali buat kedepannya.

sali emang masih SD, masih 7 tahun. tapi kalo saya cuman anggep kemampuannya cuman kayak anak-anak, kita yang ga adil buat dia. dan males berpikir buat kesiapan mentalnya. ga ada yang namanya prima dengan instant. kali saya juga mesti stop posting prosesnya dia di sosmed, jadi yang lain mikir dia udah jadi apa apa, dan jadi mancing komen ibu-ibu yang belom masuk tahap itu di  anaknya. ga ada yang salah kalo misalnya anak coba-coba activity cuman buat anaknya seneng-seneng aja. sali pun kemarin sebelom masuk crew juga begitu, saya juga masukin dia les sabtu aja. seneng-seneng buat nyalurin apa yang dia suka. tapi kalo ternyata orang lain liat potensi anak kita lebih dari yang kita bayangin, lalu kami mesti bilang engga gitu?

saya rasa kami belom obsesi sih soal sali jadi dancer, (karena banyak orang tua dancer yang obses, saya sering liat, yang ngejer guru sampe ujung jakarta demi anaknya belajar sama guru yang terkenal jadi pencetak dancer :D) saya ga pengen dia jadi dancer kok. saya pingin dia punya skill lain kalo udah gede selain sekolah. dan saya mau dia punya kumpulan teman bukan hanya di sekolah, karena dia akan jadi jago kandang, dan kehidupannya hanya berputar sekitar sekolah. di luar sana banyak dunia lain, dan ga sempit melihat jangkauan kita. kalo ini tiba tiba dia SMP ternyata punya interest lain selain nari, gambar misalnya, yah saya dukung lagi. saya dan deni ikut alurnya sali. yang pasti belajar ga bisa setengah setengah, karena nanti kayak bapak ibunya, ga punya skill apa apa. selain belajar di sekolah.

ini komitmen saya dan deni kok ketika punya anak 1, kalo dia punya interest kita punya cukup uang buat mendukung minatnya. kalo sekarang saya dan deni mundur uman karena mikirin komen orang, kami yang malu sama sali soal komitmen.

Wednesday, October 04, 2017

its been 10..



happy birthday iphone..
kalo liat video ini, masih berasa banget waktu pertama kali nonton... trus pegang, dan ngalamin iphone.. tapi ngeliat iphone x sekarang, sedih, kasian ama steve. udah pasti design iphone x ga bakalan approve sama steve dengan model poni gitu.. gapapa sih iphone masih ngarep kamu nanti bakal lebih epic bikin handphone daripada yang sekarang, yang sekarang ga bikin kepingin, mungkin iphone 12 kali?

*dan sangatlah cool ketika nonton ini steve jobs sesama penyuka the office #nerdingsohard

Thursday, August 03, 2017

sali masuk SD!


alhamdulillah.. sali udah masuk SD. udah jalan hampir 2 minggu.. sejauh ini saya seneng banget, apa yang saya harapkan dari sekolah dan sikap sali di sekolah bikin saya overjoy lebay.

saya soalnya orangnya gitu. ada hard to explain things yang kita (saya dan deni) mau soal perkembangan sali, dan ketika ada pihak luar yang mendukung, kita jadi ngerasa ga aneh. saya dan deni emang dari dulu ga ngejer material things, dan image yang penting di mata orang. begitu juga dengan pendidikan sali. kita ga liat fasilitas, atau gengsi, apalagi soal anak mesti sholehah (trus kalo ga sholehah ga baik gitu). makanya essential banget bagi kita berdua ketika sekolah mendukung hal hal yang menurut kami penting.

karena dari umur segini anak tuh mesti tau dan dibiasakan soal moral tentang materi dan image. sehingga nanti besarnya dia ga jadi pribadi yang self centered dan mengukur diri dengan materi, jabatan, dan image orang tentang dia. mau jadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja, ga ada yang bakal bikin dia galau dan mesti buktiin dia siapa supaya dia merasa penting. kami mau dia secure dengan dirinya sendiri. apa pun keputusan yang dia bikin.

eniwei, kayak apa sih langkah langkah yang diambil sekolah yang bikin kami berdua seneng banget. di sekolah sali ga ada nilai, adanya 1 senyum dan 2 senyum, nilai asli anak disimpan guru untuk penilaian nanti, sehingga ga ada peluang buat pamer dia lebih pintar. di sekolah sali ga bawa alat tulis dan buku sendiri, semua disediakan sekolah, jadi ga ada peluang buat pamer stationary, dan yang dibawa ke sekolah ga berat berat. isi tas sekolah sali cuman baju ganti, botol minum, snack, dan makan siang. bawa folder untuk membawa pulang LK dan buku komunikasi.

seminggu sebelum sekolah, kami diberi PR, untuk anak menyiapkan sendiri setiap malam apa yang mau dia bawa ke sekolah, juga soal bangun pagi, mandi sendiri, pakai baju sendiri. karena sekolah sadar, perubahan jadwal buat anak adaptasi gak mungkin cuman sehari. ga pernah saya ketemu sama sekolahan yang segitu pedulinya sama persiapan mental anak. :)

di kelas seimbang 12 laki laki dan 12 perempuan. hari orientasi pertama mereka ditukar tukar beberapa kelompok dengan kelas lain, jadi mereka mengenal teman lain di luar teman sekelasnya. di kelas sali dibagi 4 meja, tiap meja berenam. kalau nanti guru mulai melihat ada anak yang terlalu dekat dengan anak lain bangku akan ditukar,  jika mereka ternyata tetap dekat walau beda bangku, kelas 2 mereka akan dipisah. karena sekolah ga mau ada geng-geng-an. aduh saya seneng banget sekolah sadar akan adanya masalah ini.

sali sendiri udah mengalami dinamika pertemanan biar juga baru hitungan hari. hari kedua dia bilang dia udah punya sahabat, lalu hari ketiga udah ga jadi sahabat dia lagi, karena temennya milih temen lain.. hihihi, hari keempat dia mau ikutan main tak jongkok sama "bekas sahabat"nya itu, ga boleh, akhirnya sali dan 2 anak lain yang ga boleh ikutan main memilih main bertiga. sali bilang "kita bikin mainan lain yuk tak sepatu jongkok" akhirnya mereka seru main bertiga, yang dua orang "bekas sahabat" mau ikutan main. sali bilang "ga boleh, soalnya tadi kau ga ngebolehin kita ikutan main." akhirnya kedua anak tadi minta maaf. :D

namanya anak-anak yang nama pilih pilih teman pasti ada, temen yang dikejer pasti ada.. saya mastiin aja, itu ga penting, yang penting berbuat baik sama semua. saya seneng apa yang kita tanamkan buat sali berbekas, dia merasa tetap punya value biar juga direject, ternyata dia bisa kasih solusi dan ga baper kelamaan.

saya dan deni ga pernah maksa dia secara akademis, harus pintar baca, nulis atau ngaji... setiap pagi pesan saya cuman ini... "have fun learning and make friends with everyone sali.."